Make your own free website on Tripod.com

PESAN LELUHUR BUGIS MAKASSAR

 

Kejujuran

*   Berkata KaraEtta ri Cenrana (Yang dipertuan di Cenrana): Jangan jemu                  pada kemiskinan, dan bertekad penuhlah pada kejujuran, karena sesungguhnya orang jujur itu, walaupun ia karam ia tak akan binasa. Artinya walaupun tenggelam, ia akan timbul juga. Jangan pula engkau iri hati terhadap sesamamu manusia, artinya jangan engkau benci kepada orang, jangan pula engkau cemburui orang yang menemukan kebahagiaan, karena jika demikian, engkau akan binasa sampai pada keturunanmu.

*   Berkata Arung Bila: Ada empat macam orang yang baik bawaan hatinya,             yaitu pertama, mengucapkan kata yang benar; kedua, menyebut kata yang          sewajarnya; ketiga, menjawab dengan kata yang berwibawa; keempat,                  melaksanakan kata dan mencapai sasarannya.

*   Berkata lagi Arung Bila: Ada empat macam orang yang tak baik dijadikan             teman menanam benih (berumah tangga), yaitu pertama, yang serakah                  mencari warisan (lillue sakka mana); kedua, selalu mengedepankan diri                   padahal bukan tempatnya; ketiga, mengingkari anak; keempat, berasal dari             orang yang buruk asal usulnya dan buruk pula perangainya.

*   Berkata MatinroE ri Tanana: Ada pun yang baik itu terbit dari kejujuran           (lempu); adapun yang jujur itu dikasihi Allah Taala dan disukai oleh semua        manusia. Apabila kita jujur, berbuat baik bagi semua manusia, apapun                  perbuatan yang baik itu, jika tak memantul kebaikannya pada diri kita,                  niscaya ia akan memantul kepada anak keturunan kita. Tak akan habis-                 habisnya kebaikan dari Allah Taala baik orang yang berbuat baik serta                 jujur. Sebaliknya, adapun perbuatan sewenang-wenang dan keculasan,                  apabila tak memantul keburukannya kepada diri sendiri, maka itu akan                  terpantul pada anak keturunan kita. Karena perbuatan sewenang-wenang             dan kecu­laan itu tak akan habis-habisnya membawa keburukan.

*   Berkata To riolo/To Matoa (orang dulu yang tidak diketahui siapa                  sesungguhnya): Yang disebut niat yang benar (Mawa-nawapatuju) ialah                 yang bersandar pada keberanian, dan adapun keberanian ialah yang                  bersandar pada niat yang benar. Maka per­buatan yang dua macam itu                  barulah baik kalau ditegakkan di atas kejujuran. Apabila engkau                  menghendaki agar sesuatu yang dikerja­kan orang banyak,—umpamakanlah             sebagai sebuah perahu, jika engkau suka menaikinya, itulah yang engkau      muati orang lain. Yang demikian itu yang disebut jujur (lempu).

*   Berkata lagi To Matoa: Jika engkau sudah beranak, jujurkan sangatlah                  dirimu, karena apa yang disebut perbuatan buruk, akan diwarisi oleh                  keturunanmu. Apabila perbuatanmu buruk, itulah yang dijadikan cermin      oleh anakmu. Kecuali jujurkan dirimu, engkau perbaiki perbuatanmu,                  engkau habiskan nasihat-nasihat kepada anakmu, dan ia juga tetap              melakukan perbuatan yang buruk itu, maka begitulah ketentuan Allah Taala         kepada anakmu. ***