Make your own free website on Tripod.com

Gubernur Hiramatsu Bangkitkan OTODA (III)
Gerakan Satu Desa Satu Komoditi

SETELAH saya selaku gu-bernur mengadakan promosi langsung di Oita, saya lalu membuat acara “Pesta Pertanian Provinsi Oita” dimana komoditi atau produk setiap desa dipa-merkan. Dalam acara itu, saya mendirikan Gedung Gerakan Satu Desa Satu Komoditi untuk memperkenalkan komoditi atau produk khas dari desa-desa agar konsumen provinsi memberi penilaian baik terhadap komo-ditas setempat.

Pada saat itu, banyak desa belum bisa menentukan apa yang menjadi komoditi atau produk khas desa mereka. Maka saya menyarankan bahwa kalau be-gitu wajah tiga pimpinan (kepala desa, sekretaris dan bendahara) dipamerkan dan mereka mem-promosi desanya sambil menga-takan, “Kami adalah wajah dari desa kami!” Komoditi yang dipamerkan di Gedung Gerakan Satu Desa Satu Komoditi tidak hanya komoditi pertanian dan peternakan, tetapi juga ada hasil olahan pertanian.

Pengolahan hasil pertanian didasarkan pada perencanaan teratur dan penyesuaian penya-luran komoditi secara fleksibel. Keuntungan mengadakan pengolahan hasil pertanian antara lain: Pembukaan kesem-patan kerja, pemakaian sistem cadangan dan transportasi serta terjadi peningkatan mutu komo-diti.

Kelompok perbaikan hidup (anggotanya lima orang wanita) di Desa Notsuharu mencoba membuat tauco Jepang bernama “tauco Nanase” dari gandum asal setempat di pabrik kecil mereka. Tauco Nanase dijual di pasar swalayan besar di ibukota Pro-vinsi Oita dan omzetnya seka-rang mencapai  8 juta yen. Tauco Nanase ini terpo­puler di pesta pertanian dan cepat terjual habis. Mereka menerima banyak pesanan dari depot jual Koperasi Pertanian dan sibuk untuk memenuhi pesanan tersebut.

Sebenarnya industri pengo-lahan hasil pertanian berada di tengah yakni di antara industri primer dan industri sekunder. Sebab itu saya menyebutnya sebagai industri ke 1,5. Istilah industri ke 1,5 menjadi kata kunci dalam gerakan pembang-kitan desa di seluruh Jepang.

Sejak dulu desa manapun pasti mempunyai komoditi yang dibangga­kan. Untuk memper-kenalkan komoditi daerah, me-reka bisa mencoba kontak de-ngan pasar swalayan untuk men-jualnya. Tetapi Gerakan Satu Desa Satu Komoditi tidak bertujuan untuk membuat suatu komoditi memiliki pangsa pasar terbesar di Jepang. Cara Gerakan Satu Desa Satu Komoditi adalah bahwa komoditi khas daerah terus disempurnakan sampai mendapat penghargaan secara nasional dan akhirnya penduduk merasa bangga terhadap komo-diti tersebut.

Untuk melancarkan Gerakan Satu Desa Satu Komoditi, saya menyam­paikan secara langsung pikiran dan ide kepada masya-rakat. Jika hal ini saya sampaikan lewat model birokrasi dari atas ke bawah, maka maksud yang ingin saya sampaikan itu belum tentu bisa sampai kepada mere-ka. Sewaktu menjadi gubernur, saya membuat acara rapat pem-bahasan pembangunan daerah dan memimpinnnya 20 kali sela-ma setahun dimana-mana di Provinsi Oita.

 

Dengan cara ini, saya lang-sung mendengar pikiran masya-rakat dan ini bisa saya refleksi-kan dalam bentuk kebijaksanaan dan adminis­trasi. Hal ini bisa memperdalam hubungan antara pemerintah dan masyarakat dan saya juga bisa secara langsung menjelaskan tentang Gerakan Satu Desa Satu Komoditi sambil meminta dukungan kerjasama masyarakat.

Dalam penjelasan saya secara langsung kepada para staf pemerintah daerah mengenai Gerakan Satu Desa Satu Komo-diti, saya katakan gerakan ini tidak digerakkan atas perintah dari pemerintah, tetapi oleh inisiatif masyarakat. Oleh sebab itu tidak ada ba­gian/biro/seksi Gerakan Satu Desa Satu Komo-diti di kantor, tidak ada subsidi khusus, serta tidak ada peraturan pemerintah. Prinsip ini tidak berubah.

Kebetulan setahun setelah Gerakan Satu Desa Satu Komi-diti dimu­lai, seorang pemimpin suatu toko swalayan ingin menyumbang 100 juta yen karena dia sangat setuju dengan prinsip Gerakan Satu Desa Satu Komoditi. Saya lalu membuat Yayasan Gerakan Satu Desa Satu Komoditi dengan modal 100 juta yen tersebut. Saldo yayasan saat itu mencapai 162 juta yen karena ada beberapa sumbangan suka-rela dan hasil pendapatan bunga. Pendapatan bunga dari dana ini, saya gunakan untuk membuat hadiah dalam rangka memacu seman­gat Gerakan Satu Desa Satu Komoditi. Kelompok-kelompok yang rajin berupaya dalam kegiatan pembangunan desa memiliki kesempatan men-jadi juara. Juara pertama menda-pat hadiah 1 juta yen dan juara kedua 500 ribu yen. Karena ini bukan pajak, maka penggunaan-nya bebas. Mereka bisa memakai hadiah tersebut misalnya untuk biaya perjalanan peninjauan di dalam atau luar negeri, biaya pembangu­nan taman di desa dan sebagainya.

Gerakan Satu Desa Satu Ko-moditi bukan teori tetapi praktik. Dengan kata lain, ia adalah gerakan yang mendorong masya-rakat desa agar mereka berse-mangat lewat kegiatan praktik. Untuk itu diperlukan sebuah mo-del konkret untuk mendapatkan pengertian dari masyarakat. Kita perlu menunjukkan hasil sambil mengatakan, “desa ini melaku-kan begini, maka penduduk ber-tambah dan pendapatan mereka meningkat.” Dengan mulut saja tidak efektif. Para pejabat dan pegawai pemerintah daerah perlu mengetahui banyak contoh nyata dan konkret tentang kegiatan pembangunan desanya. Walau mereka menghadapi keadaan sesulit apapun, mereka perlu berusaha mencari pemecahan masalah-masalah tersebut berdasarkan berbagai pengala-man yang telah mereka pelajari lingkungan nyata. ***