Make your own free website on Tripod.com

KEMBALIKAN KEJAYAAN PELABUHAN MAKASSAR

 

Menurut data yang diperoleh, pengantarpulauan beras yang tercatat di PT Pelindo IV, yang meliputi Pelabuhan Makassar, Parepare, dan Polewali Mamasa rata-rata sebesar 664.744 ton per tahun. Pada tahun 1997 beras yang diantarpulaukan dari daerah ini tercatat 614.744 ton.

 

DIPANDANG sudut geo-grafis, posisi Makassar memang sangat strategis untuk  transpor-tasi. Karena posisinya yang be-rada di tengah-tengah, Makassar menjadi “jembatan” laut maupun udara yang menghubungkan Pulau Jawa, khususnya  Jawa bagian Barat dengan  daerah-daerah di timur nusantara.

Dari Barat (Jakarta dan Su-rabaya), Makassar menjadi pusat distribusi penumpang maupun angkutan barang. Begitu  pula sebaliknya, penumpang dan barang datang dari berbagai daerah, menyatu di Makassar untuk diangkut ke barat.

Sebut misalnya beras. Me-nurut data yang diperoleh, pe-ngantarpulauan beras yang tercatat di PT Pelindo IV, yang meliputi Pelabuhan Makassar, Parepare, dan Polewali Mamasa rata-rata sebesar 664.744 ton per tahun. Pada tahun 1997 beras yang diantarpulaukan dari dae-rah ini tercatat 614.744 ton.

Melihat permintaan menca-pai 200 ton per bulan, angka antarpulau 1998 bisa meningkat 50 persen. Tujuan antarpulau yang terbesar adalah Kaliman-tan, Irian Jaya, dan wilayah KTI lainnya seperti Manado, Maluku, dan Nusa Tenggara.

Gubernur Sulsel, H ZB Palaguna sudah memastikan adanya beras Sulsel yang dian-tarpulaukan itu yang kemudian diekspor ke Malaysia, Singapura, dan Filipina. Untuk itu ia akan meminta kewena-ngan mengatur distribusi antarpulau, melihat tersedotnya terus beras Sulsel, sehingga beras pun langka di Makassar.

Produksi beras Sulsel yang rata-rata dua juta ton per tahun Konsumsi beras tujuh juta rakyat Sulsel sekitar 800.000-900.000 ton per tahun, berarti terdapat surplus sekitar 1,1 juta ton.

Bukti bahwa Makassar meru-pakan salah satu simpul distri-busi penumpang, dapat  dilihat dari banyaknya kapal Pelni yang menyinggahi pelabuhan Makas-sar. Ada  12 kapal penumpang Pelni yang menghubungkan barat (Belawan, Jakarta, Sura-baya) dengan timur, singgah di Makassar, dan dua kapal lainnya menyinggahi Parepare, kota ke-dua di Sulsel setelah Makassar.

Untuk angkutan penumpang laut (Pelni), hanya Tanjungpe-rak-Surabaya yang mengalahkan Makassar dari sisi banyaknya kapal Pelni yang singgah.

Karena fungsinya sebagai simpul tadi, maka sedikit saja arus penumpang dan barang dari Jawa melonjak, begitu juga se-baliknya dari timur ke barat, ma-ka akan terjadilah ‘goncangan’, meski hanya dalam skala yang kecil, semisal kesulitan menda-patkan tiket, dan menumpuknya barang. Itu bukan lagi cerita baru lagi.

Sebagai simpul, sistem trans-portasi di Makassar tak boleh ku-sut, agar distribusi barang dan penumpang tadi menjadi lancar. Bila tidak, pada akhirnya menye-babkan ekonomi biaya tinggi di bagian timur yang memang sudah selangit seperti dikeluhkan para pengusaha.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, sejumlah pengusaha meminta PT Pelindo IV membe-rantas mafia di Pelabuhan Ma-kassar. Praktik tersebut, dinilai mereka selain memberatkan pengusaha jasa kepelabuhanan, juga menurunkan daya saing produk ekspor dari daerah ini.

PT Baskara Laut Nusantara melalui Dirutnya Alex Tungka pernah mengungkapkan bahwa selain keamanan pelabuhan yang dinilai masih rawan, pelayanan di pelabuhan tersebut masih jauh dari memuaskan. Ia memberi contoh, petugas sering mene-rapkan sistem kira-kira untuk pembayaran pas kade.

Keluhan lain menyangkut soal pembayaran faktur pajak. Pengusaha harus membayar uang muka saat bertransaksi. Padahal seharusnya saat transaksi sudah diterbitkan faktur pajak.

Keluhan lain, langkanya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk kegiatan bongkar muat, ia meminta PT Pelindo IV tidak memonopoli jasa peralatan bongkar muat di Pelabuhan Makassar.

Junus Dg Manesa dari Aso-siasi Perusahaan Bongkar Muat (APBMI) Makassar pernah mengungkapkan, Perusahaan Bongkar Muat (PBM) di Makas-sar sulit berkembang karena ter-lalu banyaknya PBM beroperasi di pelabuhan ini. “Muatan sekitar dua juta ton setahun diperebut-kan lebih 30 PBM,” katanya.

Izin PBM, katanya, seharus-nya tidak mudah diberikan, tetapi  disesuaikan dengan kekuatan modal, peralatan dan keteram-pilan. Namun seperti diakui ma-najemen PT Pelindo IV, banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya produktivitas di pelabuhan Makassar. Apalagi untuk menjadikan Pelabuhan Makassar tidak hanya sebagai pintu gerbang kawasan timur Indonesia, tetapi menjadi pelabu-han transit untuk wilayah timur Asia. Karena itu, berbagai pera-latan modern terus didatangkan untuk mengantisipasi kebutuhan transportasi laut di masa menda-tang. Pelabuhan Makassar berpe-luang kembali berjaya seperti pada zaman Kerajaan Gowa. Selain memiliki kedalaman ko-lam yang memadai, letak pelabu-han ini strategis dalam alur pelayaran internasional.