Make your own free website on Tripod.com

Drs. Adriadi: Dulu Karyawan Biasa, Kini Jadi Bos

Adriadi, pada tahun 1970,  pernah  menjadi  karyawan pada salah satu  perusahaan  udang di  kampung  kelahirannya  Semarang. Berbekal penga-laman,  tahun 1993 ia hijrah  ke Kota Daeng untuk membuka usaha  Cold Storage, dan kini ia berhasil menjadi bos pada perusahaan milik sendiri, PT Sittomas  Mulya Sakti, yang ter-letak di  kawasan PT KIMA  Makassar.

Dipilihnya Sulsel  sebagai tempat berusaha, karena selain istrin­ya   berasal dari Wajo Sul-sel, ia juga melihat Sulsel sangat berpeluang di bidang itu. Areal pertambakan yang luas dan didu­kung oleh iklim berusaha untuk menjadi pendorong uta-ma mengapa dia memilih Kota Daeng.

Setelah usaha  Cold Storage ini dibuka, negara yang menjadi  sasaran utama ekspor adalah  Jepang. Sekitar 80 persen  udang dikirim ke Jepang, sisa-nya ke Singapura, Taiwan dan Hongkong. Setiap tahunnya volume ekspor udang di perusa-hannya mencapai 1000 ton. Untuk bulan ini,  harga udang di tingkat petani sedang  mem-baik, mencapai Rp 80.000/kg ( untuk isi sekitar 30 ekor/kg).

Dengan  peralatan teknologi yang dimilikinya, udang  yang telah diolah itu tidak cepat  membusuk, bahkan bisa berta-han sampai  dua tahun, karena disimpan dalam  cold storage yang suhunya mencapai minus 18 derajat celcius.

Adriadi yang juga Ketua HNSI Sulsel ini, menjelaskan, untuk pasar Jepang, ada  waktu-waktu tertentu  yang sangat menguntungkan bagi eksportir udang, seperti menjelang akhir tahun, Hari  Raya Kaisar (Golden week) pesta musim panas atau hari- hari libur lainnya, juga pada bulan Agustus. Pada hari-hari seperti itulah,  orang Jepang selalu melakukan  pesta udang, yang tentunya pada saat itu harga akan naik. Dengan demikian harga udang di tingkat petani dan ekportir juga meningkat tajam. Menghadapi hari-hari seperti itu, para eksportir telah banyak melakukan persipan.

Usaha ekspor udang  memang  masih  berpeluang  besar, sebab  kebutuhn udang di Jepang men-capai 300.000 ton/tahun, sedang-kan produksi udang Sulsel baru  mencapai 8000 ton/tahun. Ini suatu peluang besar bagi petam-bak di Sulsel untuk memenuhi permintaan pasar tersebut.

Dari hasil pengalaman ekspor udang beku yang dimulai sejak tahun 1993, udang asal Sulsel yang umumnya berasal dari tam-bak tradi­sional mendapat tempat nomor satu di pasaran Jepang. Sebab yang diekspor jenis black tiger,warnanya hitam kehijau-hijauan,  kulit keras dan tekstur daging kenyal. Produk udang seperti dimikian inilah yang paling banyak digemari di Jepang.

Ayah empat anak ini  melihat  adanya kesenjangan  antara pe-ngusaha dengan pihak  perban-kan, sehingga para  pengusaha  lokal sulit  untuk  berkembang. Ia melihat ada diskriminasi pemberian kredit yang dilakukan oleh pihak perbankan selama ini, sungguh sangat merugikan para  pengusaha. Sebab dalam prak-tek, bank bukannya bermitra de-ngan pengusaha menengah dan kecil, akan tetapi bertolak belakang. Mereka melihat hanya konglomerat seba­gai mitra yang sejajar.

“Kami punya kolega, sudah dua tahun ngurus kredit yang mengeluarkan banyak biaya, akan tetapi hasilnya hingga seka-rang tetap nihil, dan itu pula se-ring  kami alami.” ujar Adriadi, Direktur PT.Sittomas Mulia Sakti, yang juga anggota Kadin Sulsel.

Adanya diskriminasi pembe-rian kredit dari pihak perbankan tersebut, membuat para pengu-saha daerah tergusur dengan ke-giatan pengusaha besar maupun pengusaha asing yang di back up dengan modal yang cukup besar. “Anda bisa lihat, kalau pnduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa, 10 diantaranya konglomerat yang  dilayani kredit besar, maka yang menikmati kemerdekaan itu adalah yang 10 orang itu yang laiunya sengsara, dan inilah yang terjadi  selama ini. Kedepan nan-ti, para  pengusaha  dihadapkan persaingan  bebas, yang bila tidak diback up dengan perban-kan, mereka pasti akan tergusur.

Diakui, bank memang me-ngeluarkan kredit UKM (Usaha kecil dan Menengah) untuk para pengusaha yang tidak termasuk konglomerat, akan tetapi  selain urusannya berbelit-belit, juga jumlah kredit tidak fleksibel, maksudnya tidak mengikuti perkembangan fluktuasi  harga. Adriadi  memberi contoh,  sebe-lum krisis, harga udang mencapai  sekitar Rp 30.000/kg, tetapi saat krisis harga udang meningkat sampai Rp 150.000/kg. Sedang-kan kredit yang disediakan masih tetap pada kisaran harga Rp 30.000/kg itu.Akibatnya, per­mintaan importir di Jepang hanya separuh saja yang bisa dipenuhi. Untungnya, saat itu,  Adriadi mandapat bantuan kredit dari bank asing  (Jepang) sehing-ga usahanya  masih tetap sehat, tetapi pengusaha lainnya banyak yang keok.

Bagi petani atau  petambak, kenaikan tajam beberapa komo-diti ekspor itu dirasa sangat me-nguntungkan, akan tetapi bagi pengusa­ha, bagai telur di ujung tanduk, sebab barang ekspor me-reka,  diproses minimal seming-gu, sedangkan fluktuasi harga tidak menen­tu, kadang naik dan kadang juga turun drastis. Cela-kanya, kalau ekportir membeli komoditi dengan harga mahal, tiba-tiba harga turun yang bisa  mengakibatkan kerugian padanya.

Adriadi mengharapkan, pela-yanan perbankan harus direfor-masi, jangan ada diskriminasi pemberian kredit antara kong-lomerat dengan para pengusaha kelas menengah ke bawah