Make your own free website on Tripod.com

Terumbu Karang Kini Jadi Puing-Puing

Saat penangkapan ikan di laut dilakukan secara tradisional, terumbu karang Indonesia yang luasnya  mencapai sekiar 60.000 km2 bagaikan syurga di bawah laut. Dengan sentuhan alat teknologi modern, antara lain dengan bom ikan dan zat kimia, syurga ikan tersebut kini berubah jadi neraka. Taman laut yang dulunya jadi kebanggaan Indonesia kini tinggal puing-puing, dan biota laut yang ada di dalamnya pun berkurang.

Pemerintah kini tengah berupaya mmelakukan penga-manan wiblayah laut, tetapi  apa  daya, personil  dan peralatan serba terbatas, membuat  para   petugas kewalahan  menangani-nya.  Walaupun mereka ada yang  tertangkap, tetapi toh akhirnya  banyak yang  lolos dari  jeratan  hukum.

Akibat penggunaan bahan peledak  tersebut, tidak hanya merusak karang,  tetapi juga biota laut baik berupa bibit maupun induknya ikut mati. Punahnya ikan, rusaknya karang, lalu apa yang bisa lagi dibang-gakan?

Dari hasil  penelitian yang dilakukan oleh LIPI, dari luas terum­bu karang Indonesia 60.000 KM2, kondisinya tinggal 6,2 persen  sangat baik, 23,72 persen normal, 28,38 persen  rusak sedang dan 41,78 persen  rusak berat. Kondisi rusak yang demikian tentunya  sangat ber-kaitan  dengan  rusaknya  secara  fisika, fisiologi  maupun  biologi  dan secara  tidak  langsung  berakibat  pula  terhadap  kondisi  dan ekonomi  masyarakat sekita-nya.

Kondisi terumbu  karang  yang ada  di Indonesia semakin menurun, yang secara  langsung  dapat  dibuktikan  dari  hasil  tangkapan  ikan  oleh nelayan. Sedangkan pertumbuhan pendu-duk terus  bertam­bah  dan pem-bangunan di daerah pesisir sema-kin meluas, semuanya itu  me-nyebabklan  tekanan terhadap  te-rumbu  karang. Demikian Edyah Zaid, Staf Bidang  Pengendalian dan Pemulihan Lingkungan Hidup Bapedal Regional III.

Edyah menambahkan, rusak-nya terumbu karang ini, tidak hanya karena ulah manusia, tetapi juga karena alami. Pada daerah terum­bu karang yang dangkal, saat badai terjadi  dapat menimbulkan kerusakan fisik yang cukup berat, karena dapat mencabut akar karang  masif. Saat air surut mmenyebabkan terumbu karang tereks­pos lang-sung dengan matahari atau  saat  terjadi  salinitas  air yang  rendah melewati  wilayah terumbu ka-rang, akan dapat  mema­tikan  karang batu  hanya dalam bebe-rapa  jam. Peristiwa Elnino  da-pat  menyebabkan  70 - 90 persen  penutupan karang hidup akan  mati  sampai  kedalaman  15 - 18  meter.

Khusus terumbu karang yang ada di Taka  Bonerate Selayar, luas kawasan  mencapai 530.000 Ha, 61 Ha diantaranya berupa bungin (gusung pasir), dan 36.214 ha  merupakan terumbu karang. “Dari  terumbu karang yang ada di wilayah itu, hanya  17 persen  tergo­long  sangat baik,” kata Ir Baharuddin Nur, Dipl.Env.

Penanganan taman laut terebut,  Kata Baharuddin,  pada bulan Oktober  tahun ini, Pemerintah akan menambah armada pengamanan laut, terdiri dari 4 kapal patroli, dan 8 perahu tradisional yang  akan diman-faatkkan untuk memantau. Ban-tuan peralatan tersebut  berasal dari bank dunia.Ditambah  lagi personil, baik dari petu­gas TNI dan Polri maupun LSM (LP3M).

Kadis Perikanan Sulsel Ir Husni Manggabarani mengung-kapkan, dari segi aspek perika-nan, bila terumbu karang terke-lola dengan baik, Indonesia akan mampu menghasilkan ikan sebesar 6,2 juta ton pertahun.

Ia  memberi gambaran, pada ekosistem terumbu karang Indonesia, terdapat sekitar 9000 spesis, ikan lebih dari 2000 jenis, reptil lebih dari 5 jenis  penyu, 148 jenis  burung laut  dan 30 jenis manila. Keeratan  hubungan antara biota laut di dalam eko-sistem terumbu karang merupa-kan suatu rantai makanan yang lengkap dan tak putus,, sehingga tingkat  dan kelestarian biota  laut yng  ada di dalamnya tergantung kepada kelestaian  ekosistem  te-rumbu karang.

Terumbu karang merupakan hutan tropisnya lautan,karena terletak di kedalaman  20 - 30 meter dalam air  laut yang hangat, bersuhu  sekitar  26 -28  derajat celcius. Luar terumbu karang di Indonei­sia sekitar 50.000 km persegi, diperkirakan lebihdari satu juta spesies  mendiami terumbu  karang, kare-na belum  seluruhnya terinden-tifikasi.

Dari  segi ukuran  dan ben-tuknya  pada umumnya adalah  terumbu tepi (fringingreefs), terumbu  karang prngsalang (barrier reefs), terumbu  karang cin-cin (atol), serta  terumbu  karang takat (patc reefs), tetapi  yang  paling  banyak  terdapat  di pe-sisir   panai  Indonesia  adalah  terumbu  karang tepi  yang  juga berfungsi  sebagai  pelindung  pantai  dari  hantaman  gelom-bang  dan  keganasan badai. Se-lanjutnya  karang  baru  sebagai  komponen  terumbu  karang  juga dimanfaatkan  untuk berbagai macam kepentingan  konstruksi  jalan  dan bangunan, bahan  baku  industri dan perhiasan. 

Terumbu  karang  di Indonesia  memiliki  tingkat  keragaman  jenis    yang sangat tinggi.  Bebe-rapa  spesies  molusca  yang  su-dah  sedikit  jumlah  populasinya  di alam  seperti  Kima raksasa (Tridacna gigas), Charonia  tri-tonis  dan trochus  masih  dapat ditemukan di  beberapa  perairan Indonesia.

Fungsi  lain dari  terumbu  ka-rang   adalah  pelindung  fisik  terhadap  pantai,  bagaikan ben-teng  kukuh  menahan  kikisan  ombak. Perkembangan  terakhir menunjukkan bahwa peman-faatan  dan  pendayagunaan te-rumbu  karang  baik  sebagai  ekosistem  maupun  sebagai sum-berdaya  ekonomi masih  dilaku-kan  dengan  cara   tidak  benar  tanpa  memperhatikan aspek  pelestariannya. Kerusakan terumbu  karang sangat sulit  dipulihkan.  Untuk   merusakkan  terumbu  karang  seluas 1 km2  misalnya, hanya  dibutuhkn  wak-tu  sekitar  dua  jam,  sedangkan  untuk  memulihkan  kembali  seperti  keadaan  semula  dibu-tuhkan  waktu  sampai ratusan ta-hun.  Hal  ini menyebabkan  per-tumbuhan  hewan karang sangat  lambat.

Data Terumbu Karang  Indonesia

Kondisi   Wilayah        Barat          Wilayah Tengah         Wilayah Timur

SangatBaik                  1,55%                  9,30%                           11,34%

Baik                            14,73                    29,07%                         28,89%

Rusak sedang               25,58%                 40,70%                         22,04%

Rusak berat                 58,14%                 20,93%                         36,73%

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Oceanologi LIPI