Make your own free website on Tripod.com

Bermain di Pasar Mancanegara

Usaha jasa konstruksi masih saja berlangsung.  Terjangan krisis ekonomi (krismi)  belum jelas ujungnya. Ketika awal krisis, hampir semua perusahaan jasa konstruksi di daerah ini sem-poyongan. Jika diibaratkan, keti-ka itu, dunia kontraktor sedang dilanda demam, meski belum sampai pada sakit berat.

Bukan hanya proyek-proyek pemerintah yang tak kunjung da-tang sebagai tanda-tanda kema-tian, pengusaha konstruksi dae-rah ini tetap dibebani kewajiban membayar biaya operasional dan gaji karyawan, belum lagi kredit perbankan yang terus menohok.

Bos PT Tuju Wali-wali yang kini tengah berupaya mengubah nama perusahaan usaha jasa konstruksinya menjadi Bosowa Konstruksi, HM Aksa Mahmud pernah  mengatakan, dalam si-tuasi seperti sekarang ini, janganlah mau jadi kontraktor.

Tapi itu dulu, di saat banyak kontraktor lebih berorientasi pada proyek-proyek pemerintah. Tahu krismon, banyak kontraktor di daerah ini lantas banting stir, meski tidak secara total mening-galkan bisnis utamanya sebagai kontraktor. Meski demikian, di tengah penantian membaiknya kondisi perekonomian, mereka tetap menanti proyek peme-rintah.

Tidak hanya jasa konstruksi yang menderita pukulan berat dalam situasi ekonomi yang buruk ini. Usaha properti dan otomotif juga mendapat pukulan yang sama beratnya. Ironisnya, jenis usaha inilah yang digeluti kalangan elite yang memegang roda organisasi bisnis di Sulsel. Sebaliknya, yang untung malah petani.

Di tengah situasi galau se-perti itu, pelaku jasa konstruksi di daerah ini tidak panik. ‘Pen-dekar’ jasa konstruksi yang per-nah menduduki orang pertama di Gapensi Sulsel, HM Aksa Mah-mud mengajak kontraktor di dae-rah ini membuat terobosan dalam melewati masa-masa yang sulit saat krisis moneter ini.

Caranya? Tidak terlalu terpa-ku pada proyek pemerintah, teta-pi berupaya untuk turut bermain di pasar dunia. Menurut Aksa, kalau kontraktor luar negeri bisa bermain di Indonesia, maka tidak ada salahnya kalau kontraktor Indonesia membidik pasar luar di negeri. “Tapi tentu dalam hal ini, dibutuhkan kontraktor yang berkualitas.”

Kalangan kontraktor anggota Gapensi diminta melakukan eks-pansi menggarap proyek di luar negeri. Sudah saatnya kalangan kontraktor nasional tidak lagi mengandalkan proyek-proyek di dalam negeri, terutama seiring dengan mandeknya proyek pe-merintah maupun swasta. Ke-sempatan ini dapat dimanfaatkan untuk membuka akses ke proyek skala internasional

Saat Rapat Kerja (Raker) jajaran Gapensi Sulsel di Hotel Quality Makassar beberapa wak-tu lalu, ‘ajakan’ Aksa itu disahuti ‘Pendekar’ usaha jasa konstruksi yang kini orang nomor  satu di BPD Gapensi Sulsel, H Anwar Fatta.

Ia menyatakan rasa optimis-menya. Hal itu didukung dengan pengembangan sumber daya yang ada di Gapensi Sulsel yang terbilang cukup kompak dan solid.

Anwar menyatakan terus be-rupaya untuk mewujudkan iklim usaha yang lebih kondusif dalam rangka melahirkan kontraktor nasional yang tangguh.  Langkah itu sangat cocok sesuai dengan kondisi riil yang terjadi saat ini, dimana disebutkan karena jasa konstruksi telah berhubungan langsung dengan denyut nadi dunianya sendiri.

Saat ini, kondisi sektor jasa konstruksi jauh lebih baik diban-ding sektor perbankan. Meski-pun sempat mengalami kegaga-lan pada saat krisis ekonomi, sek-tor jasa konstruksi tetap berjalan.

Sebetulnya yang gagal di sektor kontruksi hanya beberapa  persen, sebab kenyataan di lapa-ngan yang tidak mampu meng-hadapi tidak seberapa. Selain proyek konstruksi tetap jalan, jumlah anggota Gapensi di Sulsel terus bertambah.

Pada waktu lalu kondisi sek-tor konstruksi memang tidak me-nggembirakan. Bahkan, kontrak-tor besar tidak beraktivitas. Se-jumlah proyek besar yang telah ditenderkan ditunda atau dibatalkan pelaksanaannya.

Nah, apa yang dikatakan Anwar itu merupakan jawaban dari profesionalitas dunia usaha