Make your own free website on Tripod.com

Pebisnis India Tabu Transaksi Sabtu

Kebanyakaan orang Cina yang menga-nggap bahwa Hari Sabtu itu adalah hari yang paling baik untuk memulai suatu usaha,  tetapi bagi Suku Hindu India, hari tersebut dianggapnya sebagai hari yang jelek, dan tidak boleh melakukan suatu usaha, termasuk transaksi dagang.

Mengapa demikian? Su-resh Rewa, salah seorang WNI keturunan India kelahi-ran Sulsel  kepada Pro di Ma-kassar mengungkapkan, me-nurut kepercayaan orang  Hin-du India yang tertera dalam Kitab Suci Weda, Hari Sabtu itu merupakan hari menga-muknya Dewa Rahwana. “Jadi kalau melakukan sesuatu di Hari Sabtu, pada akhirnya usaha tersebut akan membawa sial, usaha akan rugi,” katanya. Karena itu pula bagi orang Hindu India, tempat usaha mereka seperti toko tidak akan dibuka pada Hari sab-tu karena takut usahanya men-dapat sial.

Selain itu, bagi Hindu India,  bila waktu sudah menunjukkan jam 19.00 malam, tidak bisa lagi ada transaksi jual beli karena di-anggapnya  usaha tersebut berak-hir dengan kegelapan. Walaupun yang bersangkutan sangat ter-tarik  atas barang yang diperjual-be­lika, tetapi dengan kepercaya-an yang diyakininya itu,  tran-saksi tersebut tidak dilakukan. Mereka hanya berkata, besok sajalah dilanjutkan.

Kemudian pada saat gerhana matahari, semua pekerjaan harus di­tinggalkan. Setelah selasai gerhana, mereka dituntut mandi bersa­ma pakaian yang dipakai-nya. Setelah itu, pakaiannya dise-dekahkan kepada fakir miskin.

Dibalik adanya waktu jelek itu, tentunya ada  waktu-waktu baik bagi Hindu India. setiap minggunya ada dua hari yang dianggap terbaik untuk memulai suatu usaha, yakni Hari Senin dan Kamis.

Hari Senin itu dianggap sebagai hari turunnya Dewa Siwa untuk membagi-bagikan rezeki pada umatnya. Pada hari itu pula umat Hindu ada yang melakukan puasa juga melakukan perbuatan amal.

Sedangkan pada Hari Kamis  merupakan hari diusirnya Dewa Rama keluar istana oleh ketiga ibu tirinya. Menurut Suresh, De-wa Rama semula dipersiapkan sebagai Raja menggantikan ayahnya, akan tetapi ibu tirinya tahu rencana itu, yang mem-buat ketiga ibu tirinya nekat mengusir Dewa Rama keluar istana kerajaan. Atas perlaku-an ibu tirinya itu, Dewa Rama akhirnya pergi mengembara ke Pulau Dewata (sekarang Bali) untuk bertapa selama 14 tahun.

Dewa Rama dijadikan se-bagai simbol kesabaran bagi umat Hindu, karena bagai-manapun besarnya gelom-bang menghantam  padanya, Dewa Rama tetap sabar. Lambang kesabaran itulah dianggap waktu yang terbaik untuk mengerjakan sesuatu  usaha.

Demikian halnya pada saat bulan purnama, setiap rencana yang terbetik di hati saat gerhana bulan, usahanya bisa terwujud 99 persen. Se-bab yang menggerakkan hati-nya saat itu bukan dari yaang bersangkutan tetapi jelmaan dari dewa.  Misalnya,  yang bersang­kutan mau melakukan usaha dagang, dapat dipasti-kan usahanya bakal berhasil. Demikian halnya pada saat gerhana bulan, dianggap sebagai waktu yang baik.

Dari segi bentuk rumah, menurut bos Toko Textil Liberty di Makas­sar itu, ada empat hal yang tidak boleh dilakukan, yakni pintu kamar tidak boleh berhadapan dengan WC karena alasan kesehatan;  tidak boleh ada ti-ga pintu tembus  karena di-anggap akan menghi­langkan rezeki; meja kerja/meja rezeki harus menghadap ke barat, karena diangapnya ke barat itu sebagai  arah datangnya rezeki; dan sewaktu tidur—kaki tidak boleh menghadap ke laut, karena laut diasosia-sikan sebagai Sungai Gangga yang tidak boleh diko­tori.*zt