Make your own free website on Tripod.com

Munas Gapensi Pertama di Era Reformasi

Selama pemerintahan Orde Baru, cukup lama organisasi para pelaksana konstruksi itu, menikmati hidup tanpa saingan. Dan mungkin karena fasilitas sebagai wadah tunggal itulah, banyak anggota ataupun oknum pengurus  yang cenderung ''melupakan'' jati dirinya sebagai pengurus yang seharusnya melayani anggotanya. Semakin lama semakin banyak pula yang lupa diri, bertindak otoriter seakan hanya dirinyalah yang harus dide-ngar. Maka jangsan heran  apabila dari sejumlah anggota muncul pera-saan tidak puas. Bagai gunung es yang semakin besar, perasaan tidak puas itu memuncak bersamaan dengan runtuhnya rezim Soeharto yang otoriter.

  Maka bermunculanlah berbagai organisasi tandingan yang menga-ku didukung oleh sejumlah kontrak-tor. Benarkah mereka mewakili aspirasi masyarakat konstruksi di tanah air ? Murnikah perjuangan mereka untuk membela kepenti-ngan anggota yang menurut mere-ka selama ini diabaikan oleh pengu-rus Gapensi yang otoriter ? Sejarah jualah yang kelak akan membukti-kan benar tidaknya klaim mereka itu. Sebab kalau kita mau jujur, ter-masuk para pendiukung organisasi tandingan Gapensi, eksodus yang mereka lakukan tidak lain dari bukti adanya perasaan tidak puas di kalangtan sebagian anggota Gapen-si. Jadi mereka sesungguhnya tidak membenci wadah tunggal Gapensi itu, mereka justeru masih membutuh-kannya. Mereka hanya muak melihat ulah sebagian oknum pengurus yang menurut mereka telah menyeleweng-kan mandat yang diberikan oleh ang-gota. Mereeka otoriter dan cenderung tidak transparan dalam pembagian kue pembangunan.

  Mencermati Munas I di era refor-masi itu, tidak ada salahnya apabila para pengurus Gapensi dari seluruh Indonesia memanfaatkan arena itu sebagai sarana melaklukan introis-peksi diri. Bahwa sesungguhnya Ga-pensi sebagai organisasi tidak dibenci oleh para anggotanya, melainkan hanya ulah sebagian pengurus yang menurut mereka telah melendeng dari ide semula untuk mengayomi dan membela semua kepentingan anggo-ta.

  Kita harus jujur mengakui bahwa meskipun banyak organisasi tandi-ngan yang lahir di era reformasi ini, namun Gapensi tetap saja meru-pakan wadah paling efektif dan tentu saja paling besar disbanding orga-nisasi sejenis yang baru berumur ja-gung. Sampai waktu yang panjang, mereka tidak mungikin menyaingi Gapensi yang terlanjur sudah dikenal oleh masyarakat. Dari proses so-sialissi itu saja mereka sudah kewa-lahan, apalagi dari sisi program dan jumlah anggotanya.

  Kalau demikian, pantaskah membicarakan kehadiran organisasi baru itu dalam Munas di Semarang ? Membicarakannya dalam rangka mawas diri kiranya tidak dilarang, namun tidak boleh menghabiskan seluruh waktu yang ada . Ada tugas ke depan yang lebih mendesak dan harus dituntaskan dalam Munas, yakni bagaimana  para pengurus mempersiapkan anggotanya meng-hadapi pasar bebas dalam rangka AFTA maupun APEC.  Aspekindo, Gapeknas maupun lainnya, tetap tidak ada apa-apanya disbanding Gapensi yang sudah terlanjur besar itu. Ada jarak yang terlalu sulit ditempuh oleh organisasi baru untuk merebut posisi paling terhormat di tanah air.

Kesediaan Presiden KH.Ab-durrahman Wahid membuka secara resmi Munas itu di Istana Negara, membuktikan dari ting-kat paling bawah sampai atas, memandang Gapensi sebagai organisasi para pelaksana konstruksi yang patut diperhi-tungkan. Bagaimana selanjutnya ? Terpulang kepada para peserta Munas itu sendiri.