Make your own free website on Tripod.com

Resep Agar Perusahaan Tetap Lestari

Cara perusahaan besar untuk bisa hidup terus dalam menghadapi pesaing ternyata berubah mengikuti tuntutan zaman. Cara yang kini dipakai perusahaan pisau cukur Gilette dan Gaisman umpamanya, lain sekali daripada yang dulu dijalankan Raja Minyak Rockefell­er. Namun dulu maupun sekarang dunia usaha selalu dihadapkan pada tantangan besar yang mengasyikkan sekaligus yang membuat sakit kepala.

KETIKA John D Rockefel-ler baru berumur sembilan belas tahun, ia sudah menjadi salah se-orang pendiri Clark & Rocke-feller, sebuah perusahaan yang memberi keuntungan bersih 4000 dolar AS di tahun pertama.

Pemuda itu sesungguhnya pemaalu, tidak pandai bergaul dan tidak punya  rasa humor. Ke-senangannya cuma bekerja keras dan hal itu sudah ia lakukan sejak kecil. Umur tujuh tahun ia sudah memeli­hara kalkun. Bukan untuk disayang-sayang, tetapi untuk dijual dengan memperoleh keun-tungan.

Umur sepuluh tahun ia sudah meminjamkan uang kepada pe-tani te­tangganya sebanyak 50 do-lar dengan bunga 7 persen. Seta-hun sete­lah sumur minyak ko-mersial yang pertama berhasil digali di Titus­ville, Rockefeller yang waktu itu berumur 21 tahun datang meli­hat-lihat. Siapa tahu ketemu rezeki.

Namun ia ngeri melihat le-dakan dan kebakaran yang sering terjadi. Ia lebih-lebih lagi ngeri pada harga minyak yang jatuh bangun secara tak menentu. Minggu itu harganya bisa 20 do-lar per barel, minggu depan bisa cuma 3 dolar.

“Pokoknya,” katanya kepada teman-temannya, “Jangan me-nanam modal di bisnis minyak [cf3]deh![cf1] Risikonya terlalu besar.”

Beberapa tahun kemudian, seorang pemilik pengilangan mi-nyak yang ahli mengolah minyak mentah menjadi minyak tanah, yaitu Samuel Andrews, datang ke Clark & Rockefeller. Ia men-cari modal untuk mengembang-kan usahanya.

Rockefeller yang sudah ber-tekad tidak mau berurusan de-ngan minyak itu jadi berpikir-pikir. Kilang minyak lain dengan tambang min­yak. Tambang minyak bisa kering, bisa meledak dan harga minyak mentah bisa jatuh, tetapi kilang minyak tidak menghadapi resiko itu. Bera-papun harga minyak, ongkos me-ngilangnya tetap tinggi. Mung-kinkah ini cara untuk menyadap kekayaan dari minyak?

Ketika Rockefeller berumur 24 tahun, berdirilah Andrews, Clark & Company. Usaha An-drews dan Clark ternyata maju. Melihat itu buru-buru Rocke-feller membeli semua bagian An-drews. Saat itu umurnya 25 ta-hun. Sejak itu Rockefeller betah dalam usaha minyak yang membuatnya kaya raya.

Menjadi kaya mungkin lebih mudah daripada menghadapi saingan-saingan. Dalam meng-hadapi saingan-saingannya ter-nyata John D Rockefeller mela-kukan tindakan yang sama sekali tidak terpuji.

Diam-diam ia melakukan transaksi rahasia dengan perusa-haan-perusahaan kereta api yang mengangkut minyaknya. Ia mendapat rabat besar dengan imbalan mengirimkan minyak secara teratur jumlah dan fre-kuensinya, sehingga perusahaan-perusahaan kereta api mendapat keuntungan teratur pula. Pengi-lang-pengilang kecil malah dikenakan biaya lebih tinggi, sehingga Rocekfeller mendapat keuntungan lebih besar dari lawan-lawannya.

Tahun 1870, ketika umurnya 31 tahun, ia membentuk Standard Oil dan menganjurkan sai-ngan-saingannya untuk merger saja dengannya. Kalau tidak, demikian ancamnya, ia akan menghancurkan mereka tanpa pandang bulu. Perusahaan sau-daranya pun dilibasnya. Saudar­anya tak pernah bisa memaafkan dia. Bagi John D Rockefeller, uang memang lebih utama dari ikatan darah.

Ketika ia berumur 40-an, Standard Trust sudah menguasai tiga perempat dari bisnis minyak di AS. Baru pada tahun 1911 mahkamah agung memecah-me-cahnya menjadi 34 perusahaan yang berdiri sen­diri-sendiri. Itupun masih berupa raksasa-raksasa seperti Stan­dard Oil of New York (Mobil), Standard Oil of New Jersey (Exton) dan Standard Oil of California (Chevron). Namun, yang untung tetap Rockefeller juga. Ketika saham perusahaan-perusahaan Stan­dard baru dijual untuk pertama kali-nya di Wall Street, para penanam modal berebut membeli. Aki-batnya holdings pribadi John D Rockefeller bertambah sampai hampir 500 juta dolar.

Menyimak cara Rockefeller membangun imperium bisnis-nya, tentu bukan zamannya lagi untuk ditiru. Di zaman Rocke-feller, hal nomor satu yang dila-kukan pengusaha ialah  menggi-las saingannya tanpa harus repot-repot memikirkan hurdle rates. Bukankah mereka bisa menentu-kan harga kalau nanti sudah mendominasi pasaran? Kini dominasi-dominasian sudah tak dimungkinkan lagi oleh peme-rintah AS gara-gara Rockefeller berbuat keterlaluan. Sebagai gantinya ekspansi dilakukan dengan memasuki banyak pasar. Perusahaan terus-menerus ma-suk ke pasar yang baru supaya mendapat rate of return yang paling baik.

Cara yang untuk melindungi rate of return yang paling utama di zaman modern ini ialah de-ngan diversifikasi (walaupun bu-kan cara satu-satunya). Mung-kinkah demikian?

Selama berpuluh-puluh tahun Gilette cuma menghasilkan satu produk saja: pisau silet. Pisau itu laku sekali karena mereka punya hak paten. Selain itu pemasaran-nya, mesin-mesin pembuatnya dan sistem distribusinya baik. Mereka juga berani beriklan sebab Tuan King G Gilette bi-lang: “Kita mesti jadi penyerang, harus terus maju dan mendesak saingan-saingan kita dengan bayonet. Amunisi kita adalah uang untuk iklan.”

Betul, mereka jadi perusa-haan tanpa saingan. Namun, tahun 1921 hak paten silet habis. Timbul saingan. Lima tahun kemudian Henry Gaisman sudah memasarkan pisau cukurnya ke seluruh dunia. Ia menawarkan kepada Gilette paten untuk pisau buatannya yang baru, memiliki dua sisi tajam dan lebih susah patah. Tawarannya dito­lak. Jadi Gaisman memproduksi sendiri silet barunya. Terjadi perang silet, tetapi silet Gaisman lebih laku sebab rupanya lebih sesuai dengan selera pasar. Panga pasar Gilette digerogoti terus sampai akhirnya Gilette setuju memberi perusahaan Gaisman dengan saham-saham Gilette untuk mencegah kemunduran fatal.

***