Make your own free website on Tripod.com

PROSPEK BISNIS DI BUTTA SALEWANGENG

Menyambut pelaksanaan otonomi daerah di kabupaten Maros, Kadin daerah itu akhir-akhir ini telah  mendata beberapa potensi sum­berdaya alam untuk selanjutnya dipro-mosikan keluar, dengan hara­pan ada investor berminat  menanam modalnya di Butta Salewangan.

Ketua Kadin Maros Ir HM Hatta Rahman, ketika dihubungi Pro mengungkap-kan,  Maros sebagai hinterland dari Kota Makassar sangat berprospek bagi investor, sebab selain memiliki sumber-daya alam yang cukup, juga ditunjang jalur transportasi dan komunikasi yang sangat lancar. Apa lagi bandara Interna-sional Hasanuddin berada di  Maros. Fasilitas ini sangat me-mudahkan bagi eksportir untuk pengiriman barang dagangan ke luar negeri.

Dengan data potensi yang diperoleh dari berbagai instansi itu, selanjutnya akan ‘dijual’ pada investor dalam maupun luar negeri. Promosi yang telah dila-kukan selama ini, cukup mem-buahkan hasil. Sudah ada bebe-rapa investor lokal maupun asing yang berminat untuk menanam-kan modalnya di Maros. Seperti halnya baru-baru ini, investor dari Belanda ingin menanamkan modalnya untuk pengemban­gan gula aren dan  jeruk manis di Pu-ca.

Menurut Hatta, sasaran uta-ma yang ingin dicapai dalam pro-mosi ini adalah bagaimana me-ningkatkan pendapatan dan kesejahteraan ma­syarakat, serta peningkatan pendapatan asli daerah dalam rangka mendukung otonomi.  Karena itu, upaya Ka-din tak hanya sekedar promosi, tetapi lebih dari itu bagaimana kelancaran pemasaran hasil-hasil produksi petani. 

Untuk pasar lokal saja, kata Hatta, sangat berprospek. Sebab Maros merupakan daerah lintas semua kendaraan yang menuju ke bagian utara Sulsel. Masya-rakat di 48 kabupaten se Sula-wesi melintas setiap harinya di daerah Maros. Ini berarti, pema-saran hasil produksi pertanian maupun kerajinan tangan serta usaha rumah makan  sangat menjanjikan kesejahteraan bagi warga Maros.

Seperti yang telah dilakukan  oleh warga Maros, dengan men-jual buah-buahan di sepanjang jalan poros , cukup banyak di-singgahi oleh mobil-mobil pe-numpang setiap harinya. Demi-kian halnya usaha rumah makan dan warung kecil lainnya.

Namun sasaran utama dari promosi ini adalah bagaimana agar komo­diti andalan daerah itu bisa menembus pasar interna-sional. Upaya yang harus ditem-puh sekarang , tidak hanya pe-ningkatan kuantitas, tetapi juga peningkatan kualitas produksi agar mampu bersaing di pasar bebas.

Menuju peningkatan kualitas hasil produksi pertanian tersebut, baru-baru ini, Kadin Maros telah mengutus dua orang petani ke Bogor untuk mempelajari teknik-teknik pertanian yang dikelola dengan teknologi modern.

Serapan teknologi pertanian itu, diharapkan bisa dilaksanakan di Maros, mengi‘ngat kondisi  areal pertanian di daerah Butta Sae­wangan jauh lebih  baik dan lebih luas dibanding dengan Bo-gor, sehingga tidak ada lagi pili-han bagi Maros kecuali me-ningkatkan produksi dan kualitas hasil pertanian lewat teknologi modern.

Apa lagi di daerah yang ber-batasan langsung dengan Ibukota Pro­vinsi Sulawesi Selatan ter-sebut, sekarang ini telah ditem-patkan balai pe-nelitian pertanian  yang setiap tahunnya mampu menelorkan berbagai bibit jenis unggul, mulai dari padi, jagung, kacang, perikanan dan masih banyak lainnya. Dari kelebi-han yang dimiliki itulah, Ketua Kadinda optimis, Maros suatu saat akan unggul di bidang pertanian.

Maros Menyimpan Jutaan ‘Harta Karun’

Kabupaten Maros  tak hanya potensial di bidang pertanian, tetapi juga di sektor pertambangan, mulai dari tambang pasir, batubara,  marmer,  pasir kwarsa yang banyak diminati oleh pasar Interna­sional. Pengelolaan marmer dan bahan pembuatan semen misalnya, ternyata produksinya mampu menembus pasar internasional, belum terhitung jenis tambang lainnya apabila dikelola dikelola maksi­mal.

  Potensi  tambang di Maros

1. Lempung Hitam  227,5 juta meter kubik
2. Lempung abu-abu 4,5 juta meter kubik
3. Marmar   6.760,625 x 10.6 ton
4. Oker (bahan baku cat dan kertas  6,5 juta ton
5. Pasir kwarsa 5 juta ton
6. Basel 4.799,9 juta  ton
\
7. Andesit 612,64 juta ton
8. Diorit  555,4 juta ton
9. Granodiorit 3.402 juta ton
10.Trakit 325 juta ton
11. Batu Pasir 22 juta ton
12. Krikil dan batu sungai 50,17 juta ton.