Make your own free website on Tripod.com

Prof. Dr. Zainuddin Thaha:
KELIRU MASUK PT HANYA UNTUK JADI PTS

Mungkin inilah yang sudah menjadi  warisan secara turun temurun, mulai dari zaman kemerdekaan hingga kini, anggapan masya-rakat bahwa orang masuk se-kolah, khususnya Perguruan Tinggi sasarnnya adalah untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. “Anggapan itu sangat keliru, masuk Perguruan Tinggi tidak harus jadi PNS, tetapi sebaliknya harus mampu menciptakan lapangan kerja sesuai  dengan bidang keahliannya,” ujar Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Dr. Zainuddin Thaha, ketika ditemui Pro di kedia-mannya  baru-baru ini.

Ketika negara ini baru berdiri sejak tahun 1945 memang orang  yang berpendidikan  sangat dibutuhkan untuk  menjadi PNS, akan tetapi sekarang  melihat  perkembangan lulusan sekolah lanjutan maupun Perguruan Tinggi membludak, sementara dunia kerja makin terbatas mem-buat  banyak lulusan perguruan tinggi menjadi pen­ganggur intelek.

Oleh karena itu, kata Zainuddin,   membangun Pergu-ruan Tinggi  itu  tidak hanya  sekedar untuk memperoleh keuntungan pribadi semata, akan tetapi  yang lebih penting   adalah bagaimana membangun kualitas SDM yang kreatif dan memiliki etos kerja yang tinggi.

Suatu Perguruan Tinggi, bila mampu  mencetak   sarjana yang berkualitas,dan kreatif, perca-yalah,  bukan lagi mereka yang mencari pekerjaan tetapi justru pekerjaann yang mencarinya. Demikian halnya Perguruan Tinggi yang bersangkutan men-jadi incar­an para calon maha-siswa.

Para orang tua  calon maha-siswapun harus selektif  memilih sekolah  yang punya prospek. Karena itulah  bila ada Perguruan Tinggi  yang hanya sekedar   me-nelorkan sarjana  tanpa melihat kualitas, kepercayaan masya-rakat  akan berkurang, dan lama-lama akan ditinggalkan, yang pada  akhirnya akan tersisi secara  alamiah.

Sekarang  saatnya PT di Indonesia bercermin pada PT yang ada pada  negara  yang sudah maju. Berdasarkan  hasil kajian lembaga pene­litian terkemuka dunia, Universitas Indonesia ternyata hanya berada pada peringkat 71, Malaysia masuk peringkat 40, Singapura  peringkat dibawah  10. Dari hasil penelitian tersebut, Indonesia memang jauh ketinggalan diban-ding dengan Malaysia dan Singa-pura. Padahal dulunya,tenaga pengajar Malaysia  kebanyakan didatangkan dari Indonesia. ‘’Ingat Prof. A.Amiruddin mi-salnya yang diminta oleh Pe-merintah Malaysia membina Ilmu Fisika di Universitas Kebangsaan Malaysia,’’ tutur Prof. Zainuddin Thaha.

Yang menjadi sampel penelitian tersebut diatas adalah Universitas Indonesia, yang menurut ukuran kita adalah universitas  yang paling favorit di tanah air, tetapi  mengapa  sampai jatuh di urutan ke 71. Bagaimana pula dengan univer-sitas  yang ada di daerah, tentu-nya jauh lebih tertinggal.

Mengapa  pendidikan di Indonnesia bermutu rendah dibanding   negara  lainnya. Me-nurut Rektor UIM,   hal itu disebabkan dua hal yakni; sistem pendidikan di Indonesia sam-rawut, dan political will  peme-rintah terhadap pendidikan sangat rendah.

Kesamrawutan  sistem pendi-dikan di Indonesia dapat dilihat pada  mudahnya seseorang  memperoleh gelar doktor, tanpa ikut dalam proses belajar  me-ngajar. Mereka hanya ditawarkan gelar  di hotel-hotel mewah. Be-lum lagi  mudahnya dibentuk  lembaga pergur­uan tinggi di  daerah, walau  tak memenuhi syarat,dan nampaknya  mendiri-kan Pergurun Tingi lebih mudah dibanding mendirikan Seko­lah Taman Kanak-kanak.

Disamping itu, political will pemerintah  terhadap pendidikan sangat rendah sekali. Bayangkan,  anggaran pendidikan  dalam APBN hanya  sekitar 6 - 7 persen setiap tahunnya, dibanding Malaysia anggaran  pendidikan mencapai 25 persen.  Dari segi  anggaran pendidikan itulah jelas terlihat bahwa kualitas pendidi-kan di Indonesia jauh tertinggal dengan negara jiran itu.

Padahal  untuk memacu pembangunan suatu negara  sangat banyak ditentukan   oleh kualitas SDM yang ada dida-lamnya. “Kalau mau mendapat-kan SDM yang berkualitas ting-katkan anggaran pendidikan,” ujarnya.

Wibawa dosen juga kini sangat merosot di mata masya-rakat, mereka memandang  terla-lu rendahnya penghargaan yang diberikan pada dosen  yang  kemana-mana cari uang. Kalau kebetulan mereka ketemu  maha-siswa yang banyak uang,  peni-ngkatan SDM bisa diatur. Zainud­din juga tidak menyalah-kan dosen yang  berbuat seperti itu, asal mereka bekerja dilan-dasi dengan idealisme yang tinggi.

Kedepan ini, mahasiswa tidak  lagi dituntut untuk mengi-si formasi PNS, akan tetapi yang lebih penting adalah  bagaimana  memanfaat­kan ilmu yang didapatkan di Perguruan Tinggi  untuk menciptakan la-pangan kerja.  Alumni PT se-perti inilah yang akan menjadi dambaan masyarakat  untuk memperluas lapangan kerja, sekali gus dapat membantu pe-merintah dalam mngatasi pe-ngagguran  yang setiap tahun-nya terus membludak.