Make your own free website on Tripod.com

Manajer Sukses Bukan Manajer Bajakan

ADA semacam legenda yang dipercayai kalangan bisnis selama setengah abad ini, yaitu tentang manajer profesional yang mampu diterjunkan di setiap perusahaan dan mengelola serta menjalankannya dengan baik.

Legenda itu sekarang tinggal mitos belaka. John P Kotler, profesor di Harvard Business School pada bidang Organizational Behavior, berpendapat lain. Ia mengatakan, manajer yang sukses dibentuk secara perlahan-lahan tidak karena dibeli atau karena bakat belaka.

Saran Kotler, "Tinggallah dalam suatu jenis usaha tertentu dan pelajarilah segala seluk beluknya dengan tekun."

Pendapat Kotler itu dituangkan dalam bukunya berjudul The General Managers setelah ia mempelajari secara langsung 15 manajer sukses dalam bisnis Amerika. Penelitian itu dilakukannya dengan sangat mendalam sehingga benar-benar dapat mengungkapkan bagaimana para eksekutif terbaik itu get things done.

Seorang general manager yang efektif, menurut Kotler adalah seorang spesialis yang punya kemampuan untuk bekerja dalam sebuah kelompok. Ia harus mempunyai pengetahuan yang mendalam dan terinci tentang industrinya, teknologi, produk, pasar dan pesaingnya. Itu semuanya baru dapat dica-painya setelah bertahun-tahun menelan asam garam sesuatu jenis bisnis tertentu.

Sama pentingnya adalah pengetahuannya tentang hubungan-hubungan kerja sama, sistem jaringan yang luas dan seringkali informal, yang harus selalu diperhitungkannya setiap kali membuat keputusan.

Kelimabelas general manager yang diteliti Kotler memang semuanya sudah belasan tahun berakar di perusahaannya. Beberapa diantaranya bahkan sudah mulai bekerja pada perusahaan itu sejak awal karirnya tak pernah pindah.

Hampir sepanjang sejarahnya, manusia selalu bergantung pada dirinya sendiri. Orang menanam padi dn gandumnya sendiri, memelihara ternaknya sendiri, dan mencari sendiri tenaga-tenaga tambahan yang diperlukannya untuk bekerja di ladang atau di kandang. Sekarang, terutama di negara-negara maju dan berkembang, orang bergantung pada manajer.

Boleh dikata semua barang dan jasa yang diperlukan untuk mempertahankan eksistensi manusia kini dibuat, diadakan daan diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan yang dikendali para manajer.

Pada zaman ini lebih dari separuh kehidupan orang dewasa di negara-negara maju dikendali-kan oleh para manajer.

Dalam waktu yang begitu singkat sejarah menyaksikan kehadiran generasi manajemen ini. Tetapi, hingga kini pun masih banyak yang belum persis tahu siapakah para manajer itu, apa saja yang dilakukannya, dan mengapa yang satu lebih efektif dari yang lain?

Perkembangan organisasi manajemen yang menjadi sangat besar tentulah telah pula meng-ubah ciri-ciri manajer. Tidak hanya perusahaan menjadi semakin besar, secara geografis ia terpecah-pecah di seantero muka bumi, juga teknologinya menjadi kian canggih dana jenis usaha pun mengalami diversifikasi yang luar biasa. Kecenderungan-kecenderungan itu tentulah pula berdampak pada hakiki pekerjaan manajemen.

Para general manager, sesuai dengan kecenderungan itu, harus bekerja dalam situasi yang sulit dan kompleks, baik dalam pengertian intelektual maupun interpersonal. Pada masa kini pekerjaan itu menempatkan seorang general manager pada sebuah posisi di mana ia harus bertanggungjawab atas sebuah sistem dn struktur kompleks yang tak sepenuhnya dimengerti, apalagi dikendalikan secara langsung.

Para general manager selalu dituntut untuk mampu meng-identifikasikan masalah dan tampil dengan pemecahannya, sementara seringkali hubungan-hubungan perilaku dalam lingkungan organisasinya belum jelas. Ia pun selalu dihadapkan

dengan ribuan isu dan masalah yang pasti menyerap habis waktu dan perhatiannya. Dalam upaya menyeimbangkan antara prioritas sasaran jangka pendek dan jangka panjang, seringkali pula seorang general manager terlalu direpotkan dengan sasaran jangka pendek sehingg mengorbankan sasaran jangka panjang. Atau dalam bahasa Edward de Bono, menyingkirkan yang important untuk yang urgent.

General manager pun seorang manusia yang dituntut untuk selalu meningkatkan motivasi ribuan karyawan agar selalu bekerjaa dalam suasana harmonis dan berproduktivitas tinggi. Ia juga membawahkan puluhan manajer sibuk lainnya yang tak selalu dapat dipergunakannya untuk meringankan pekerjaannya.

Sekali pun situasi dasarnya selalu sama, ternyata menurut penelitian Kotter itu pekerjaan general manager tak selalu sama. Sebagai akibatnya, dua pekerjaan general manager pada masa kini dapat sangat berbeda cakupan tugas-tugas utamanya. Bahkan, sekalipun pada permukaannya pekerjaan itu kelihatan sama, para general manager-nya sendiri bisa saja dihadapkan pada dilema dan tantangan yang berbeda.

Dalam kesimpulannya, Kotter menyebutkan beberapa dilema daan tantangan utama para general manager yaitu:

- Menetapkan sasaran utama, kebijaksanaan dan siasat dengan asumsi-asumsi yang kurang jelas

- Mencapai keseimbangan yang rumit dalam penglokasian sumber daya yang mahal itu ke berbagai fungsi secara tepat

- Berada pada puncak kegiatan yang kompleks dan menyebar itu untuk memastikan bahwa masalah yang timbul tidak akan lepas kendali

- Memperoleh informasi, kerja sama dan dukungan dari para atasannya untuk melakukan pekerjaannya

- Memperoleh kerja sama dari para staf berbagai divisiny, termasuk unsur-unsur eksternal yang menentukan kelangsungan usahanya

- Memotivasi, mengkoordinasikan dan mengendalikan sekelompok besar bawahan yang bermacam-macam jenis dan perangainya.

Akibat dari tuntutan-tuntutan itu, seorang general manager senantiasa menghadapi rintangan-rintangan yang segunung. Pengambilan keputusan menjadi lebih sulit karena besarnya ketidakpastian, beragamnya isu, dan banyaknya informasi relevan yang mungkin potensial dalam proses pengambilan keputusan itu. Pada saat yang sama, pelaksanaan kerja pun menjadi masalah tersendiri karena besarnya jumlah orang yang terlibat.

Tuntutan-tuntutan itu tercipta terutama karena memang itulah mcam pekerjaan general manager, tetapi juga karena ciri dari bisnis maupun korporasi di tempatnya bekerja.

Kelimabelas general manager yang diteliti Kotter semuanya mempunyai kesamaan ciri yaitu ambisius, berorientasi pada pencapaian sasaran, tidak gila kuasa, berkepribadian stabil, optimistis, mampu menguasai perasaan, kecerdasan di atas rata-rata, mempunyai intuisi yang kuat dan tajam, mudah bergaul, dan mampu menggabungkan para spesialis dalam konteks bisnis yang kompleks.

Selain contoh-contoh yang gamblang diurai Kotter tentang kelimabelas narasumbernya, Kotter pun dengan baik sesuai dengan bidang Organizational Behavior yang dikuasainya menguraikan hal-hal yang secara mendasar perlu dikuasai seorang general manager.

Benang merah yang jelas terentang dari hasil penelitian Kotter tentang general manager adalah sucessful managers are made slowly, not born or bought. ***