Make your own free website on Tripod.com

Mari ke Hawai dengan Menanam Prem

Tulisan ini berasal dari satu buku berbahasa Jepang, "Pemikiran dari daerah," yang ditulis oleh Mr Hiramatsu, Gubernur Provinsi Oita, Jepang. Pengalaman Hiramatsu dapat dijadikan bahan perbandingan terhadap pelaksanaan otonomi daerah (otoda) yang sekarang ini digencarkan di Indonesia. Hiramatsu sangat terkenal sebagai pencipta sekaligus pendorong Gerakan Satu Desa Satu Komoditas, salah satu gerakan kebangkitan daerah yang dinilai unik dan berhasil di Provinsi Oita, Pulau Kyusyu, Bagian barat Jepang. Dia salah satu contoh gubernur yang mewakili sikap daerah-daerah yang bersemangat untuk aktif memperbaiki sistem sentralistik Jepang dengan pelaksanaan pembangunan daerah yang berdasarkan inisiatif lokal. Tulisan tentang terobosan Gubernur Hiramatsu yang disaji dalam tutur ‘saya’ tersebut akan disajikan secara bersambung dalam beberapa edisi,red.

Desa Oyama di Kabupaten Hita. Desa ini sekarang sudah terkenal di seluruh Jepang sebagai desa yang paling berhaasil dalam perkembangan daerah.

Namun pada tahun 1960-an, Oyama adalah satu desa kecil yang biasa-biasa saja yang berpenduduk 6.400 orang dan terletak di daerah pengunungan yang dikelilingi pohon cedar yang khas. Di tengah desa ada sungai Oyama yang tidak begitu jernih airnya dan mengandung banyak batu kecil karena air di bagian hulunya digunakan untuk pembangkit tenaga listrik.

Dalam satu perjalanan dinas ke Hita pada tahun 1974, ketika saya masih bekerja di Badan Pengelola Pertanahan, Pemerintah Pusat Jepang, saya mendapat informasi bahwa di Desa Oyama ada seorang ketua koperasi pertanian yang unik.

Menurut informasi itu, ketua koperasi pertanian tersebut menciptakan istilah, "Mari Kita Pergi ke Hawaii dengan Menanam Prem dan Kastanye!" dan membuat suatu usaha pertanian yang menghasilkan keuntungan besar dengan cara menanam prem dan kastanye di seluruh desa.

Setahun kemudian, saya kembali ke Provinsi Oita sebagai Wakil Gubernur. Suatu waktu ada informasi bahwa para pemuda di Desa Oyama ingin sekali bertemu dengan saya sebagai Wakil Gubernur yang baru saja kembali dari Tokyo. Maka saya mencoba mengunjungi Desa Oyama, sekitar tiga jam dari ibukota Provinsi Oita dengan mnggunakan mobil.

Waktu saya masuk ke desa, matahari sudah terbenam karena musim dingin dan terlihat sinar lampu dari rumah petani yang berada di pinggir sungai.

Ketika masuk ke pondok kecil, tiba-tiba terdengar lagu dari kaset yang distel keras dan lampu disorot kepada saya. Lagu itu berjudul Chikuma-gawa (Sungai Chikuma), yang selalu saya nyaanyikan di karaoke. Kenapa mereka tahu lagu kesukaan saya? Siapa yang menyelidikinya?

Ada juga spanduk yang ditulis dengan huruf besar, "Acara diskusi dengan Bapak Oita." Wah...rasanya hangat! Saya langsung akrab dengan mereka dan berbicara macam-macam sambil makan masakan ayam kampung dan sayur-sayuran serta minum minuman khas asli daerah shochu. Bagaimana caranya agar desa mereka betul-betul bisa mandiri? Untuk itu kami berbicara terus-menerus sampai tengah malam.

Pada tahun 1960-an umumnya prtanian di daerah terpencil masih didominsi tanaman pangan dan peternakan, naamun Desa Oyama tidak mengikuti pola dasar kebijaksanaan pemerintah dan sengaja mencoba menanam prem dan kastanye.

Para petani mulai menanam jenis komoditas yang cocok dengan keadaan setempat yang pada akhirnya memungkinkan mereka untuk jalan-jalan ke Hawaii.

Usaha tani harus menjadi usaha yang terasa nyaman dan menyenangkan. Ini cerita mereka yang belajar dari pikiran ketua koperasi prtanian yang unik, Mr Harumi Yabata, dan hasil mengikuti Gerakan Prem dan Kasta-nye Baru. Akhirnya saya mengerti apa yang paling diperlukan petani.

Rupanya gerakan untuk membangkitkan daerah bisa saja dimulai dari pikiran orisinil yang tidak selalu harus sesuai dengan pola dasar pemerintah pusat. Ge-rakan tersebut sulit dimantapkan tanpa konflik dengan diri sendiri. Malam itu saya mendapat ide tentang gerakan untuk membangkitkan daerah. ***