Make your own free website on Tripod.com

Melalui Gerai Konsumen Dijaring

Kini di Makassar, gerai juga menjadi pilihan para pengusaha menjajakan dagangannya. Bukan saja di plaza-plaza yang mulai tumbuh seperti Plaza Maricayya dan Plaza Ratu Indah atau dikenal dengan Mal Ratu Indah, gerai juga dapat dijumpai di Pusat Perkulakan Alfa dan Goro serta beberapa toko serbaada

DALAM situasi persaingan berbagai produk yang makin tajam seperti terlihat dalam produk elektronik dan kosmetik, para pemasar dituntut terus-menerus harus mencari terobosan baru. Cara menunggu pembeli atau calon pembeli datang ke toko sudah tidak ampuh, meski beberapa toko misalnya menjanjikan potongan harga besar-besaran bagi setiap pembeli di tokonya masing-masing.

Ada terobosan yang sekarang diperkenalkan beberapa toko pakaian jadi di Makassar dengan memasang iklan menyebut tokonya akan segera ditutup sehingga semua barang diobral murah. Tetapi cara seperti itu tidak sedikit menimbulkan kesan bahwa barang yang ditawarkan sudah ketinggalan mode.

Lalu sekarang cara apa yang dianggap sebagai terobosan yang cukup ampuh untuk meraih pembeli sekaligus promosi produk?

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung yang lebih dulu memiliki plaza-plaza, para produsen/agen/toko berlomba-lomba membuka corner shop (gerai). Corner shop yang lebih kecil disebut counter. Mengapa gerai lebih efektif daripada toko? Karena melalui gerai bisa menarik lebih banyak konsumen dan omzet, juga ada kontak langsung dengan pembeli atau calon pembeli.

Bahkan di beberapa toko serbaada seperti Matahari Dept Store di Makassar Mal, tak luput dari ‘serangan’ gerai.

Sewa lantai untuk membuka gerai di plaza-plaza berbeda-beda. Misalnya di Goro, sewa lantai untuk gerai luar dipatok Rp 300.000 per meter depan per bulan. Sedang untuk gerai dalam, lebih tinggi lagi sewanya tergantung posisi yang diambil. Sementara di Maricayya Plaza ditetapkan sewa lantai gerai Rp 500.000 per meter persegi per bulan.

Sementara di Mal Ratu Indah, kiat yang dijalankan pengelola berbeda dibanding tempat lain. Walaupun mal ini terbilang paling mewah di Makassar namun kepada pengusaha yang ingin membuka gerai diberi keringanan.

Setiap gerai yang akan dibuka di Mal Ratu Indah diberi tempat seluas 2 x 3 meter persegi dengan perhitungan sewa per hari. Dalam bulan Agustus yang bertepatan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI, pihak pengelola memberi potongan harga sewa sebesar 50 persen dari biasanya Rp 200.000 per hari. Maiksimum sewa ditetapkan dua minggu dan dapat diperpanjang dengan membuat kontrak atau perjanjian yang baru

Di pusat perbelanjaan milik Kalla Group tersebut, pengusaha yang membuka gerai harus tunduk pada persyaratan yang ditetapkan pengelola, misalnya penyediaan sarana jualan seperti etalase atau sejenisnya.

Selain itu penataan barang jualanpun harus menarik sehingga tidak memberi kesan seperti di pasar sentral dan pasar-pasar tradisional.

Seorang pengusaha barang elektronik, Benny yang membuka gerai di Mal Ratu Indah mengaku bisa memperoleh omzet penjualan hingga Rp 10 juta per hari.

Hal yang sama juga dikemukakan Ramly Bombong, sales supervisor produk rumah tangga merek Electrolux. Pihaknya menyewa tempat seluas 4 x 3 meter persegi. Barang-barang yang dipajang di gerai ini seperti mesin cuci, lemari es dan kompor gas semata-mata contoh.

"Kalau ada yang berminat membeli secara tunai atau kredit, barangnya akan kami ambil dari kantor Electrolux di Panakukang Mas," kata Ramly yang mengaku target penjualan melalui gerai di Mal Ratu Indah sebesar Rp 70 juta per bulan. "Target penjualan itu sering sekali dilampaui," tambahnya.

Meraih pembeli melalui gerai juga menggiurkan bagi yang berjualan di Goro dan Alfa. Misalnya Arsyad yang membuka gerai pembuatan kunci tepat di sekitar pintu masuk Goro. Pemuda putus sekolah itu menyewa tempat sebesar Rp 300.000 per bulan.

"Lumayan berjualan disini karena saya bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 1,5 juta per bulan," katanya.

Pengakuan yang sama juga diutarakan Ali yang menjual stiker. Pria berusiaa 28 tahun itu menyewa tempat seluas 1,5 m dengan nilai sewa per bulan Rp 450.000. Dibanding penghasilannya, pengeluaran untuk sewa tempat itu tidak seberapa. "Barangkali orang sulit percaya kalau saya sebut omzet penjualan saya per bulan bisa mencapai Rp 7 juta," tuturnya berseri-seri.

Berjualan di gerai membutuhkan seni tersendiri. Selain barang yang dijual memang jarang diperoleh di pasaran umum, para penjual juga dituntut bersikap manis. Tengoklah gadis-gadis cantik yang mengawal gerai kosmetik atau parfum.

Pramuniaga parfum agresif mempromosikan produknya. Tidak mengherankan kalau berkunjung ke mal, Anda tiba-tiba ‘disergap’ cewek cantik sekadar membujuk membeli produk jualannya.

Apa yang dilakukan pramuniaga itu, adalah upaya memancing konsumen. Nah, itulah fenomena yang terjadi akibat persaingan yang makin keras. (zt/us)